SELF IMPROVMENT.


Efriansyah

About me

Halo, saya Efri, dan jika Anda belum tahu, saya sangat suka membaca buku! Saya sekolah di bidang multimedia. Bukan hanya itu saja, terkadang saya mengikuti kelas online dibidang “psikolog” ya.. bisa di katakan begitu. Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini!

sumber pinterest

Seni Menerima Diri Apa Adanya

Mengapa Diri Sendiri?

Sebab dia adalah musuh terhebat manusia. Dia terbilang sulit untuk dikalahkan. Seseorang yang belum selesai berurusan dengan dirinya sendiri, pastinya sulit untuk bisa peduli dan memberi manfaat untuk orang lain.

TIDAK PERCAYA?

Banyak yang tidak menyadari bahwa konflik batin adalah permasalahan vital yang sering terabaikan. Sejauh mana diri kita bisa menerima diri sendiri, maka sejauh itulah kita bisa berdamai dengan kenyataan. Orang-orang yang sudah berdamai dengan diri sendirilah yang mampu menjalani kehidupan yang penuh tuntunan ini dengan lebih tenang.

COBA TELAAH LAGI DIRIMU SAMBIL MEMBACA BLOG INI, DISANA ADA BANYAK HARTA KARUN YANG TERKUBUR KARENA DIRIMU SENDIRI.

CATATAN PEMBUKA DARI PENULIS

Topik blog kali ini dengan tema “Kemampuan Menerima Kekurangan Diri” saat ini sedang dibutuhkan oleh siapa saja. Hal ini menilik dari kenyataan bahwa fenomena orang-orang yang sulit bahagia seringnya disebabkan oleh rasa khawatir yang berlebihan dan sulit untuk menerima keaadan.

Sudah banyak kasus yang terjadi hari ini, orang-orang yang terjerumus dalam lubang depresi karena merasa dirinya tidak seberhasil orang-orang disekitarnya. Mereka terlalu meratapi kekurangan yang mereka miliki sampai lalai bahwa sebenarnya dibalik segala kekurangan yang mereka punya, mereka masih mempunyai kelebihan dan potensi dalam dirinya. Yang lebih ironi lagi, hal ini juga terjadi pada orang-orang yang justru pencapaian hidupnya sudah jauh di atas rata-rata. Bukankah menyedihkan jika kita mendapati seseorang yang secara prestasi sudah begitu gemilang, pasangan yang rupawan, penampilan menarik, pekerjaan yang menjanjikan, tapi masih saja merasa tidak bahagia?

Sehingga saya terpanggil untuk menulis blog solo saya dengan mengambil tema ini. Dan akhirnya selama menulis blog ini, saya merasa sedang mengalami perjalanan batin:). Mengapa kak efri? Sebab dalam proses penyelesaian blog ini saya masih memasuki fase quarter life crisis. Saya mendapati diri saya menjadi manusia yang susah tenang karena melihat banyak kelebihan di diri orang lain sementara hidup saya masih begini-begini saja. Oleh sebab itu, saya merasa dengan menulis blog ini, saya seolah mengobati pikiran saya sendiri yang setidaknya bisa saya bagi bersama untuk pembaca semua.

KETIDAKPERCAYAAN DIRI YANG DISKENARIO

Hari ini manusia mana yang tidak dijejali dengan nilai-nilai yang disadari atau tidak, sudah membuat kita jauh dari rasa bersyukur dengan kodrat yang diberikan Tuhan kepada kita? Bagaimana tidak, setiap hari selalu saja ada figur-figur baru yang dipertontonkan untuk menanamkan pola pikir yang merujuk pada satu tujuan: budaya konsumtif. Dari bintang iklan yang hampir sama gambaran fisiknya. Kebanyakan dari mereka memiliki paras cantik dengan kulit putih mulus, rambut hitam dan tebal, berbadan langsing semampai, hidung mancung, dan masih banyak lagi. Kemudian sang pembuat iklan mengakhiri tampilan itu dengan menawarkan produk ini dan itu, jasa ini dan itu, hanya demi untuk membuat penonton tergiur untuk membeli semua barang dan jasa yang ditawarkan.

Perlahan tapi pasti, definisi cakep dibentuk oleh mereka, dan masyarakat awam dengan mudah memercayainya. Hingga kemudian, yang berkulit coklat bahkan hitam, tubuh gemuk dan kurus, rambut ikal bergelombang, menjadi minder dan merasa tidak cakep di mata public secara umum.

Yang disebutkan tadi baru berupa fisik yang menempel di tubuh yang sebenarnya sudah menjadi ketetapan dan mungkin tidak bisa diubah-ubah (kecuali jika memang terpaksa dan dipaksakan). Lain lagi cerita jika nilai-nilai promosi yang kian digencarkan adalah benda-benda fungsional yang kian hari kian beralih fungsi menjadi benda bernilai klasifikasi kasta. Benda-benda itu bisa berupa gadget, jam tangan, laptop, motor, mobil, rumah, dan benda-benda lainnya. Mereka seolah bekerja keras bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi gaya hidup.

Bagi mereka yang tidak mampu dan berkecukupan, hal itu mungkin tidak menjadi masalah besar. Tapi yang menjadi perkara adalah ketika pola pikir ini terlanjur meracuni kaum menengah yang berambisi untuk menuruti hawa nafsunya. Kerja keras banting tulang demi menuruti segala sesuatu yang semu dan tidak ada habisnya. Akhirnya, angka kematian atas bunuh diri, penyakit yang dijangkit karna setres berlebih, dan konflik sosial lainnya semakin hari semakin meningkat saja. Padahal akar dari masalahnya tidak jauh-jauh dari pergeseran pola pikir yang sulit untuk menerima diri sesuai kodratnya dengan cara lebih bersyukur pada apa yang ada.

Masih segar di ingatan kita tentang sebuah foto berikut dengan berita yang viral di media sosial beberapa waktu lalu. Tentang seorang bapak paruh baya yang hendak membeli sebuah ponsel pintar dengan setumpuk lembaran uang dua ribuan. Sengaja si bapak membayar ponsel tersebut dengan lembaran uang tersebut karena memang profesinya yang berupah tak seberapa. Ia harus mati-matian mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk menuruti rengekan anaknya yang ingin memiliki ponsel tersebut. Sang anak mengiba pada anaknya yang ingin memiliki pensel tersebut. Sang anak mengiba pada ayahnya agar tidak dikata ketinggalan zaman oleh teman-temannya. Bukankah itu sangat menyedihkan?

Menurut mike robbins dalam bukunya yang berjudul “be yourself” berulang kali menyatakan bahwa tiap manusia di dunia ini terlahir otentik. Tidak ada rupa maupun karakter dalam jiwa seseorang yang bisa diduplikat oleh orang lain sekalipun keduanya adalah kembar identik. Dari sini saya pun berpikir bahwasannya setiap dari diri kita memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik dan tidak dimiliki orang lain…

Suka tidak suka, mau tidak mau, ungkapan bahwa “cantik itu relatif” sebenarnya memang betul. Sebab standar cantik idealnya tidak bisa disamakan, apalagi dibentuk melalui tampilan dari figur-figur dalam media promosi itu. Jika dengan menampilkan sosok wanita yang berbadan langsing dan berkulit putih adalah sebuah simbol kecantikan, lalu bisakah kita mengatakan mereka yang berbadan gemuk dan berkulit hitam itu jelek? Kalau kata Pramoedya Ananta Toer, pola pikir ini adalah pola pemikiran yang tidak adil sejak dalam pikiran.

Sekarang coba bayangkan apabila seluruh wanita didunia ini diciptakan menjadi lansing semua, tidak ada gendut, tidak ada yang kurus, bukankah itu membosankan? Yang ada kemudian adalah standar kecantikan tidak ada lagi mereka yang berbadan langsing, tetapi bergeser lagi menjadi begini atau begitu yang entah seperti apa lagi dan mau dibentuk macam apa lagi.

Kita sebagai manusia biasa mungkin pernah sevara tidak sengaja atau bahkan sengaja menilai buruk suatu karya orang lain. Walaupun sebenarnya yang dihina adalah karyanya, maka yang tersinggung pastinya adalah pembuatnya. Seperti halnya jika kita menghina manusia lain dengan berkata ini jelek, itu gendut, ini payah, ini tidak tampan, maka secara tidak langsung yang kita hina ada Penciptanya. Siapakah dia? Tentu saja Tuhan yang maha pencipta.

Seandainya banyak manusia menyadari hal ini, pasti mereka tidak akan dengan mudahnya menilai buruk seseorang hanya dari penampilan fisiknya saja. Selain itu, pemikiran semacam ini pun pastinya akan jauh menolong seseorang menjadi korban iklan dan trend masa kini. Walaupun sebenarnya mengikuti perkembangan zaman bukanlah sebuah kesalahan besar, namun alangkah lebih baik jika kita bisa lebih bijak untuk menyeleksi hal-hal apa saja yang bisa diadaptasi dan mana yang tidak perlu dihiraukan. Sebab tidak semua yang ditawarkan oleh zaman kekinian hari ini cukup bermanfaat dan bernilai kebaikan untuk diterapkan secara keseluruhan.

Jangan karena tidak mau berbeda dengan yang lain, kemudian kita merasa minder dan tidak punya ‘nilai’ yang sama seperti yang lain. Ahli psikologi menyebut hal semacam ini dengan sebutan inferiority complex, alias sikap yang tidak mau menjadi berbeda dengan yang lain. Padahal seperti disebutkan oleh Mike Robbins tadi, menjadi berbeda dan unik adalah sebuah garis takdir yang sudah pasti dimiliki manusia. Lalu sampai kapan manusia modern ini tidak menyadari bahwa dari diri mereka yang sebenarnya memiliki orisinalitas yang seharusnya bisa diunggulkan?

SULITNYA UNTUK BISA MENSYUKURI APA YANG KITA MILIKI JIKA DIBIARKAN AKUT MAKA AKAN MENGAKIBATKAN BANYAK HAL YANG LEBIH BURUK.
SALAH SATUNYA ADALAH RASA MINDER YANG BERLEBIHAN…

Minder berlebihan atau rasa rendah diri tak jarang membuat banyak orang gagal menunjukkan potensi sebenarnya yang dia punya. Bukan tidak mungkin jika orang yang sebenarnya memiliki banyak potensi harus mengubur diri dalam dalam banyak karena penampilan fisiknya tidak sesuai dengan prototype yang ditampilkan ola media massa secara masif tersebut. Mereka terlalu fokus pada kekurangan diri mereka yang tidak bisa ubah. Mereka terlalu lama mengutuk diri sendiri untuk hal hal yang tidak bisa dan semestinya tidak diubah.Untuk itulah buku ini dibuat. Melalui panggilan hati untuk menyadarkan banyak pembaca bahwasanya setiap dan diri kita memiliki potensi luar biasa yang bisa bermanfaat, bukan hanya untuk din sendiri tapi juga ke orang banyak. Harapannya buku ini dapat menggugah jiwa khalayak luas untuk bisa berdamai dengan kekurangan dirinya sendiri. Tidak terus mengutuki diri sendiri apalagi sampai mengkufuri nikmat Tuhan lainnya.Di dalam buku ini akan disampaikan apa saja hal yang bisa dilakukan untuk melawan pengaruh hegemon me dia dan penilaian sosial dalam meracuni pemikiran kita. Sebab jika kita diam saja dan tidak melawan, bukan tidak mungkin penilaian sosial semacam ini akan mem bunuh karakter kita. Sehingga dalam proses melawan pe ngaruh ini, diperlukan adanya tameng dari dalam diri.